Pergimu, sunyi!

Segala jenis hening yang dituang malam terasa makin mengental
Semarak pujian tentang senja menjadi kabar yang lewat terdengar
Kita masih bertahan dengan peluk terpenggal

Di pelabuhan puisi ini, jelitamu tiba sebagai kapal tanpa nahkoda
Tapi pertengkaran, ialah anak ombak yang menenggelamkannya
Siulanku menjadi alunan suara yang tertiup dari bibir pendosa
Semoga di telingamu, ia sampai sebagai doa penenang usia

Ada sajak yang pernah kujadikan penutup telinga
Ketika sebuah pintu yang kau banting menjeritkan luka yang kupelihara
Lalu cahaya bulan mengering
Kau pergi mengenakan sepatu bernama waktu
Perpisahan telah menjelma badik yang menghabisi awal tahunku

Pergilah!
Barangkali di luar sana,
kau temukan peluk yang lebih tabah dari dada yang aku punya
Kau tetap menjadi pertanyaan dari kening yang kukerutkan
Kau tetap udara pengisi di pipi yang kucembungkan
Dan engkau tercipta sebagai sesuatu yang kumiliki, namun menolak kupahami

Seharusnya, kamu bisa hidup bahagia dengan ribuan senyuman di satu ruang
Seharusnya pula, ruangan itu adalah ingatanku

-








Ada sebagian dari mereka yang pulang, dan masih dipersilakan dengan baik. 
Mungkin karena saat pergi dulu, mereka tak membanting pintu.

Mungkin kau





















Mendadak aku ingin menulis banyak hal
Semacam jelang tidur yang gagal
Ingin menulis aroma hujan
Ingin menulis pagi buta
Ingin menulis suara ombak
Ingin menulis wangi tanah basah
Ingin menulis hamparan gurun hijau

Masih banyak lagi;
Lambaian nyiur
Semilir angin
Cuaca dingin
Segelas kopi
Lantai yang basah
Sekaleng bir

Namun seketika aku sadar
Semua yang ingin kutulis ternyata pernah kutemukan di sekujur tubuhmu
Sementara tatapan mata, canda tawa, pelukan-pelukannya, masih sisi dingin bantal kapuk yang menenangkan lelap tidurku.

Sebelum dia menyebutmu istri



























Perempuan yang tak kuinginkan itu pulang dengan langkah tak terdengar. Membawa rekaman jerit, bentak, juga beberapa cerita tentang apa yang membuat sembab mata dan lebam biru di pipinya.

Aku pikir, ia datang untuk memberitahukan makanan berbahaya apa saja yang tak ia perbolehkan untuk aku makan. Sebab dia takut aku terkena stroke atau serangan jantung lalu mati, dan ia tak bisa mendatangiku lagi.

Atau mungkin, ia hanya ingin sekadar mengingatkan kalau dia masih sangat membenci acar, yang ia bilang selalu membuat liang surganya basah, dan ia tak mau aku kecewa ketika menyetubuhinya di hotel-hotel murah kelas Kamboja.

Malam itu ia datang tak mengenakan kacamata. Ia bilang ingin sekali melihatku telanjang tanpa terhalang apa-apa. Ia membawa setangkai bunga berwarna merah muda. Cantik sekali! Persis lesung pipit dan rambut cepolnya yang sering aku tuliskan dalam puisi. Lesung pipit yang selalu aku puja, aku pelihara, yang tak pernah menguap begitu saja meski berulang kali aku campur dengan majas apa saja.

"Tadi waktu aku beli, bunga ini wangi sekali" katanya.
"Tidak seperti kenangan dalam kepala kita yang mampu bertahan lama, wangi bunga bisa saja lenyap mengudara ketika ia sampai di tangan penerimanya."

Kami sempat terlibat perdebatan kecil, tentang siapa yang dulu meninggalkan atau ditinggalkan. Aku memilih yang kedua, namun ia menyanggahnya. Ia bilang, "cinta kita tak pernah tanggal, meskipun kita berjauhan dengan peluk terpenggal."

Untuk melanjutkan perayaan cinta dan dosa, malam itu kami sengaja memilih ruangan paling gelap. Agar tak ada siapapun yang melihatnya kecuali kita bertiga; Tuhan, aku dan dia. Sebab cinta hanya membutuhkan itu saja

Siapa? Atau apa?

Siapakah R?  Atau lebih mudah, pertanyaan nya kuubah saja. Apakah R?  R adalah daun pintu yang bergerak terbuka. Suara deritnya, getir. Seperti wangi hujan pertama yang kau nikmati bersama senja sambil mengenang kepergian kekasih terbaik.
R terbentuk dari pikiran-pikiran licik, rindu yang bernasib buruk, juga percakapan-percakapan panjang untuk membuat indah jelang-jelang tidur. R merupakan panggung bagi senja. R ialah bagian dari sore, ia tinggal ditengah kata itu.
Lantas, siapakah P?  Apakah ia seorang penyair, penyanyi, atau sejenis alat musik yang disebut perkusi?  Bukan, semua perkiraan salah. P tak lebih hanya selembar kertas kosong, lalu R menulisinya dengan kalimat-kalimat sederhana dengan isi pikirannya yang seluas jagat raya.
Hingga akhirnya P bisa terbaca lebih indah dan megah. Huruf P tak hanya terbaca sebagai p. Ia bisa menjadi pantai, pelangi, pemandangan, permadani, perpustakaan, pagi, prosa, atau puisi.
Akhirnya P dan R saling jatuh cinta.
Tapi, menurut berita yang kubaca dari beberapa lembar puisi, takdir tak mengizinkan mereka bersatu. Sebab, bentuk mereka hampir sama.
P memilih dirinya menjadi pergi dan pudar. P memilih kembali menjadi kertas kosong, sementara R tak tau ia kemana.
Karena R memiliki dua kaki, P berharap R bisa terus berjalan. Dalam setiap doanya, P memohon ada satu kata atau sebuah nama yang meminang R untuk menjadi pendamping.
R tak bisa sendirian. Ia selalu gagal di eja lidah-lidah cadel. Sementara P merelakan dirinya menjadi konsonan yang lumpuh, inisial yang bisu, silabis yang tak bergerak.
Sebab P, ialah R yang kehilangan satu kaki berbentuk garis kecil miring ke bawah.

Yang selalu ku sebut.





 Surga lain yang kusebut itu adalah kau;
Perempuan digaris takdir yang memiliki rasa takut pada gigil dan badai petir
Warna emas langit barat ketika sore mulai bergulir
Atau perkara paling rumit yang tak bisa begitu saja diurai
lengkap dengan pikiran-pikiran sederhana dan isi kepala yang kadang selalu dipenuhi tanya



 Surga lain yang kusebut itu adalah kau;
Pemilik dua tanggal istimewa di sebuah bulan yang berlangit basah
lahir dan diberikan hari terbaik yang disebut ibu bagi anak-anak puisi

Pemilik kantuk diwaktu yang sama meski sesekali harus tidur di jam berbeda

 Surga lain yang kusebut itu adalah kau;
Pembuat suara gemerisik air, beradu pagi dengan mesin cuci

terbangun lebih awal sebab mengemban tugas menyiapkan banyak hal
pelantun doa merdu sebagai cara meringankan berat beban
tak seberapa suka puisi meski lelakinya menulis berkali-kali

 Surga lain yang kusebut itu adalah kau;
Tubuh mungil sebagai penggenap ragaku yang ganjil
tempat pulang juga sarang bagi segala bentuk kecemasan
lembar paling bersih dimana aku bisa membaca berita-berita baik
ranting kukuh dan segar tempat daun-daunku memilih tinggal

 Surga lain yang kusebut itu adalah kau;
Pencipta rindu sepanjang hari, di selusin bulan, disetiap angka arlojiku yang tak memiliki jarum detik
mahir berdandan apa adanya dan tak menyukai gemerlap lampu-lampu pesta

 Surga lain yang kusebut itu adalah kau;
Pelukis senyum termanis, lengkap denga semua sihir disepasang bibir tipis

 Surga lain yang kusebut itu adalah kau;
Tempatku selalu datang hingga lupa pulang

 Surga lain yang kusebut itu adalah kau;
Seseorang yang selalu ku-usahakan kebahagiaanya.


Undur diri

Akhirnya kata-kata menuntun kita menemukan pagi
Puas kita bermain diperandasansi, tiba saatnya aku undur diri.
Memugar prasangka berlumut, meniupkan wangi dari gumaman doa-doa baik, memberinya sedepa jarak untuk kita yang masih setia digenggam oleh takdir.

Aku mencintaimu dengan rasa takut yang tak mampu aku tulis.
cukuplah kita menjadi sebait kata semoga yang lupa, bahagia penuh umpama, atau sepasang barangkali yang belum tentu diamini.

 Saling kejar, hanya membuat kita hilang nalar.

Cinta bukanlah kokoh tembok kota yang setia dikencingi anjing, atau ranting-ranting kering yang tabah menghadapi musim. 
Ia adalah sakit yang tak kunjung sembuh, atau justru, kecewa yang berulang kali kambuh.

Segala yang datang dan pergi, akan terus berlari meski dengan sepatu yang tak bertali. 
sebelum senja dan malam beralih peran, dengan mata yang mulai basah, aku akan pulang.

Seperti ada yang melubangi dada, kata dan tawa yang biasa meramaikan cuaca dimalam hari, telah kita paksa untuk menyerahkan diri. sederet kalimat yang nyaris beku, akan menjadi jawaban dari pertanyaan hening bisu yang belum tentu datang disetiap waktu. 

Kelak, ketika musim penghujan tiba, akan kubuatkan kau puisi yang tak melibatkan kata-kata susah, agar kau bisa membacanya sambil berselimut. Mengangankan pelukan dari belakang yang berulang kali aku janjikan. 


Berkhayal melihat senja, melihat lampu kota yang mulai menyala, atau berbincang tentang apa saja yang belum pernah kita bicarakan sebelumnya.

Kita kembali saja pada apa yang pernah kita tulis dalam diam. 
Ternyata, waktu tak terlalu sabar untuk menghidangi kita sebuah pelukan.

Seperti lirih bisikan gerimis yang meyamarkan jejak. 
Jika musim-musim terdepan tak memberikanku pilihan, aku-pun bersiap diri menjadi prihal yang layak kau lupakan.

Seluruhmu dalam kata











Satu hari dengan pagi yang tak berjudul, aku tak ingin berkhianat atas sajak yang akan kutulis. 
Seperti keindahan, yang hidup atas paru-paru namamu. 

Kuawali dari jelitamu, yang kuangankan mimbar bagi 
segala jenis kekaguman. 
Nyalang matamu ialah terik, mengamini doa untuk 
mengawali segala kehidupan. 
Rambutmu ribuan serat tanpa ruas. Pantulan sinar rembulan imitasi, anak panah menuju 
pulang yang kupercayai. 

Hembus napasmu, kehangatan yang setia memeluk daun telingaku; yang merupakan keranjang, buah-buah ranum yang jatuh dari bibirmu. 
Keningmu, tenang permukaan telaga. Melayarkan mimpi bibirku yang sekoci, menuju pulau sunyi yang tak memiliki pagi. 

Bulu matamu atap dari istana yang megah, sandaran tubuh untuk berteduh, dari terik hingga hujan yang dijatuhkan semesta. 
Kedipanmu hening damai tanpa suara, santun langkah kaki jenjang bidadari yang mengitari purnama. 
Bibirmu debar debur laut, pembasuh paling riang, 
penerbang sukma menuju temaram surga. 

Lalu aku mengingat pelukmu; hangat muara jutaan 
cuaca, yang tak cukup kutulis dengan majas apa saja. 

Bahkan pundakmu, bantal terbaik untuk kepalaku. 
Padang pasir yang tak punya akhir dijelajah musafir — berparas serupa Yusuf. 
Sidik jarimu adalah arsiran acak di atas debu. Kujaga serupa kain beledu, rebah lembut damai kulit pipiku. 

Lenganmu samudera yang membentang. 
Tempat segala anak-anak rindu terdampar, penenggelam paling tenang, untukku yang tak pandai akan renang. 
Jemarimu runcing belati berkuku ungu, mengerat 
pergelanganku yang kaktus berdarah salju. 

Kini, labirin-labirin hatiku, telah ramai menanti damai. 

Kemarilah, bingkiskan sekotak pelukan berpita merah 
muda. 
Jika kau mempercayai kisah ini, akan kusiapkan seluruh hangat yang kumiliki. 

Semoga saja, Tuhan selalu berbaik hati; melibatkan kita pada takdir yang sama. 

Isi kepalamu








Kepalamu seperti laci dalam kepalaku
Berisi arloji, memori yang tak kupakai lagi, juga guning kuku yang kugunakan sekali-sekali
Kepalamu layaknya gayung dikamar mandi
Suka bergoyang dan berputar-putar ketika dialiri air dari dalam keran
Kepalamu serupa warna cat rumah tetangga sebelah
Selalu berganti warna sesuai selera tiap tahunnya
Kepalamu seperti baju buruh pabrik yang susah dicuci
Sebab noda membandel, atau kotoran lain sisa oli
Kepalamu seperti kipas angin diwarung kopi
Terus berputar dan menoleh kekanan-kekiri meskipun sepi pembeli
Kepalamu seperti lampu kamar yang lupa kumatikan
Tak terlalu terang, tak jarang juga hanya mengganggu pejam
Barangkali seperti itu, kau menebak isi kepalaku yang masih selalu berisi tentangmu

Pagi selasa







Selasa pagi pernah bertanya,
Bagaimana kabarmu?
Lembut, lamban menyerupai kepak sayap kelelawar yang berpura-pura membenci matahari
Melebihi lentur angin yang mengajari pohon-pohon
menari

Selasa pagi juga bertanya,
Kemana perginya pelukan yang pernah kaupuja dengan delapan ratus bahasa?
Kecup yang kau katakan pandai menidurkan rembulan
luka karena gerhana,
Atau usap paling menenangkan bagi angsa yang dijangkiti kecewa karena arus telaga

Kasih, aku gemetar mengingat suaramu yang tak lagi bisa kudengar
Memandang punggung yang perlahan menghilang
Dan rindu, telah menjadi hukuman atas dosa kecil yang hanya bisa diampuni oleh pertemuan

Seketika aku menggigil pada suhu terendah
Sementara hangatmu, layaknya punggung lembah yang disanjung ribuan kabut-kabut

Degupku parau.
Diremehkan garau angin dini hari
Diacuhkan sepi yang lebih sunyi dari denyut nadiku
sendiri

Perihal apakah yang membuatmu setabah ini menanti? Tanya Selasa pagi
Sebab dekapmu murni, bukan hangat buatan yang
kumenangkan dari meja judi

Yang didengar hujan.


images by Ina karisda putri.


Sediam apapun jarak, aku masih mengajakmu menidurkan bulan
Mengulang kebiasaan lamaku, meniup senja yang menyelinap di matamu
Membersihkan warnanya yang tercecer di keningmu dengan bibirku
Kerap kau katakan, adegan itu adalah kecupan rahasia yang diajarkan para dewa
 
Perihal apa yang bisa menjinakkan kekagumanku, Dinda?
Ditubuhku, engkau masih udara yang belum dihisap napas
Desir yang belum ditangkap darah juga degub yang belum ditemukan jantung
Dan hanya di bibirmu tersimpan senyuman yang tak pernah bisa aku taklukkan
 
Jika memang esok pagi hujan
Akulah gerimis awal yang ingin tunduk di wajahmu
Warna lain yang menggantikan bedak dan gincumu
Menjelma bening yang mencatat kedipan pertamamu agar kau tak lagi mendengar gumam mendung yang
menyesal  
Sebab lupa mewakili aku memasuki mimpimu
Mengguyurkan kekaguman dalam bentuk hujan
 
Dan bila engkau masih kuanggap api
Jangan kau bilang ketabahanku seperti kayu, Sayang
Kepada langit, selalu kau pulangkan aku sebagai asap
Kau serupakan aku baling-baling kapal yang menyakiti alur laut
Sedang pelukanmu ,kepal tangan nahkoda yang membabibuta
 
Sekali lagi aku ingin engkau tahu:
Didadaku, masih ada debar ketabahan yang mengkhawatirkanmu

Prihal hati.









Pada sebidang luas kertas putih, titik hitam kecil selalu lebih menarik pandangan.
Sebelanga besar susu tidak ada artinya dibandingkan nila yang hanya setetes saja.
Dan gajah yang jelas-jelas menempel di pelupuk mata tiadalah artinya tinimbang kuman di seberang samudera sana.

Lihat, kan? Hal-hal kecil yang merusak nyata-nyata lebih menjadi anak emas perhatian kita.
Kebaikan-kebaikan seseorang selama sepuluh tahun, misalnya, bisa saja kita lupakan hanya karena satu kesalahannya yang tak bisa kita maafkan.
Seseorang yang mencintai kita sebesar gajah yang menempel di pelupuk terabaikan dan kita
malah memilih mengejar kuman di seberang lautan yang bahkan untuk dilihat dengan mata telanjang saja sebenarnya susah.

Gajah di pelupuk mata tak dapat cinta, kuman di seberang lautan yang terus
mengabaikan tak lelah dipertahankan.

Hati. Ya. Kita sedang bicara masalah hati. Yang gagal dipegang kendali.

Sore yang layak kau lupakan.







Satu senja pernah kita habiskan dengan diam dan keadaan yang semakin mendingin.
Sepasang kupu-kupu dengan sayap tua menguning, terbang menggiring kata bosan yang keluar dari bibirmu. Gerimis sore itu seperti jutaan tombak yang ingin menikam segala yang lelah di kepalaku.
Hening membatu, tanpa satu pun suara yang berniat melenturkan lidah kita.
Untuk mengelabuhi kecewa, di atas selembar roti aku melukis setangkai mawar dengan mentega. Kuletakkan tepat di sebelah teh wangi melati yang kau pesan dengan hati benci dan segala yang menyakiti.

Sore ini, sekeping kegagalan telah tersaji pekat di atas meja pertengkaran. 

Dimasak di sebuah dapur yang menyeruakkan wangi bunga-bunga setelah kau mengenal dia.
Petir di luar menyerupai suara tawa mereka yang di depannya dulu, aku pernah membanggakanmu.
Sepertinya kita butuh senja lain untuk mengumpulkan percakapan.

Satu sore saja, aku rasa tak akan cukup untuk menampung perbincangan kita yang semakin tajam dan mulai gemar saling melukai. 

Aku menyadari bahwa kita hanyalah sepasang permohonan yang tak pernah selesai di hadapan doa.
Sebelum kau dan aku benar-benar paham, pertemuan adalah perintah takdir untuk kita menjaga, lalu saling tabah melepaskan. 

Kelak, silam juga akan mengajak kita untuk saling memunggungi. 
Tanpa perlu mengingat lagi, kedua dada kita pernah saling berjanji untuk mengingat sehidup hingga mati.

Ternyata benar apa yang dulu pernah aku takutkan,
terutama perihal mencintai, melepaskan memang butuh rasa sakit yang lebih.

Kelak, kita akan menjadi cuplikan peristiwa yang tak ingin dilanjutkan pertemuan lainnya.
Menggantung di antara usai atau belum selesai.
Mengambang di antara tetap bertahan atau harus rela melepaskan.
Tapi mungkin itu nanti, setelah aku memiliki kebesaran hati
Sebab kesedihan kerap datang mendahului perkiraan, aku pun bersiap diri untuk
menjadi bagian dari sekian hal yang layak kaulupakan.




Tulisan ini tak hanya berupa angin, yang membawa kabut senyum menuju bening laut air. 
Berbahagialah, rebahkan kekaguman itu di dadanya. 
Jangan lupa satu hal; datanglah kembali ke sini, jika kau butuh sesuatu yang bisa kau lukai. 




Diikutsertakan dalam lomba menulis #Kpm.


Bukankah kita telah sepakat?








Di perapian ini, tak ada sesiapa pun antara aku dan kau yang ingin menjadi api atau kayu, kita sama menjadi abu.
Sebagaimana pernah sangat dulu kau katakan, bahwa kita tiada pernah mungkin akan padam.
Sebab kita bukan kunang-kunang di kelam malam. 
Dan sampai tadi aku percaya bahwa kita memang bukan kunang-kunang. 
karena ketika itu waktu aku dan kau setuju kita adalah bintang, kita sepakat matahari itu juga bintang, tak peduli siang atau malam aku dan kau tetap benderang.

Lalu, kini, di perapian ini, kenapa kita tiba-tiba tak pernah genap menyusun jemari? hanya sekejap menjadi api, sekedar nyala seujung mati, lalu abu, serupa debu, menjadi bisu.
Aku dan kau terserak jauh disapu angin yang ditunggangi dingin. 
Kita menggigil, demam, meringkuk sendiri. 
Bukankah mestinya kau dan aku tetap bintang? kenapa lalu tiba-tiba perapian?

Karena Tuhan Maha Bercanda.








Bubur tak memiliki pola, begitu pun aku dan 
keakuanku. 
Sedang buyar, atau memang sudah dan terus 
seperti? Entah. 
Bubur tak memiliki kerasnya. 
Tapi bagaimana bisa bergemeretak kunyah 
sampai se-dada-dada? 
Padahal cuma ayam, dan beberapa hati yang 

diiris dan ditabur di atasnya. 
Ia begitu sempurna. 

Kenapa bubur yang menjadi lakon drama? 
Karena Tuhan Maha Bercanda, asal kau tahu saja. 

Memberi manusianya pikir untuk mencipta, 
sejenis rasa yang memiliki nikmat kala bentuknya tak lagi rupa. 

Seperti cinta? 
Terserah, itu pikirmu saja, aku tak memiliki 
larang untuk kau menyambungkannya. 

entahlah..


               





Kau tau kawan?
Ialah ia yang terus melagu-kan doa tentang rasa sakit dan bahagia tanpa jeda.
Kau tau kawan?
Adalah mata yang sering meng-anak sungai, dan berjuang untuk kering. Sulit.

Diujung sana,, di waktu yang paling nanar. Gadis itu telah penuh lebam. Jatuh, bangun. Jatuh, bangun tanpa ampun.

Kau tau kawan?
Jengkalku hanya sekedar jengkalan.
Lenganku,, tak berarti apa-apa.
Kosong, lagi-lagi.

Satu kali, dua kali. Ah, berkali-kali.

Kau tau kawan?
Rindunya,, sudah menggunung.
Anganku,, sudah berpulau.

kami jauh,, apalah daya.
Jarak adalah pembunuh berdarah dingin bagi cinta yang tidak siap.
Bodohnya, kami siap. Sedari dulu.

Kau tau kawan?
Bisakah kami pulang ke-awal?

suatu sore.











Aku menemukan awan merupa gula-gula kapas pada matamu yang menjingga. 
Secangkir rindu yang bermuara tak lagi menganak sungai.

Seketika, pilu samar dalam lumat paling cinta. Telaga tak berwarna kini memunggungi kemarau. 
Pada sudut hati yang lembab, gelak mulai menjamur. 
Lekuk sempurna jemarimu sudah berani berkisah; tentang sepotong senyum, yang melukis gincu paling jingga–di pipi seorang pemuda.

Di halaman, sebuah siluet menjelma kupu-kupu, mengitari rimba bunga tertutup salju. 
Sinar mentari mengintip dari balik semak, berpendar merupa kunang-kunang di tengah belukar mawar. Musim semi telah tiba, bisiknya.

Perlahan, putri malu mendongak. 
Hutan sunyi meranggas, warna warni sekar berlenggak-lenggok menguarkan aroma hujan.

Malam menyapa, bayang wajah mengatap di antara redup lampu kamar. 
Kelebat lengkung surga merah delima menari tak henti-henti. Memabukkan sepasang mata hingga enggan terpejam.
Tidurlah, jelita. 
Ada yang menunggumu saat kelopak membuka esok hari. 
Ketika fajar dan embun menggubah detak jadi melodi. 
Dan senandungnya mengiringi doa ibu; melihat senyum termanis-mu pada rengkuhan seseorang dengan hati paling lurus hingga tubuh menua.

Surat, ah entah yang keberapa.

Maaf baru bisa membalas surat-suratmu.

Aku terkejut membaca surat-suratmu. Bukan karena banyaknya yang sudah kau kirim, tapi isinya yang benar-benar membuat kebas.

Suratku ini akan menjelaskan dan menjawab semua pertanyaan dan pernyataanmu, ina.
Semoga setelah ini, kita akan benar-benar mengerti atas apa yang ingin kita tuju.

****

Kau tau ina, sebuah hubungan yang dibiarkan tumbuh tanpa keteraturan akan menjadi hantu yang tidak menjejak bumi, dan alasan cinta yang tadinya diagungkan bisa berubah jadi hutang moral, investasi waktu, perasaan serta perdagangan kalkulatif antara dua pihak.

Kau pasti tau,, ada beda antara kita.
Aku, ya cuma begini-begini saja. Aku bukan pujangga dan tak pernah bisa bermetafora. Monokrom, dan kurang dimensi.
Ya, inaa. Inilah aku. Praktis dan realistis.

Aku sudah mencintaimu ina, meski kau selalu ragu. Dengan segenap rasio dan akal, aku mencintaimu. Dalam bayanganku, kita dapat bekerja sama membina apa saja, termasuk rumah tangga. Itulah aplikasi substansi berjudul "Cinta" bagiku. Cukup seperti itu, dan aku yakin kau pun paham.

Dalam konsep cinta yang ku pahami, ternyata tidak banyak yang ku tau tentang mu, ina. Kau selalu merajut lukamu. Entah apa alasannya, kau selalu memelihara luka masa lalu itu. Kau terus menjaga ingatan itu, hingga aku kadang tidak mengerti tentang banyak hal. Kau selalu menyimpan sendiri. Kau malah menenangkanku yang kebingungan, hanya dengan isyarat.

Saat seperti itu selalu membuatku berfikir, jangan-jangan aku yang terlahir cacat. Ada satu bahasa di semesta ini yang tidak terikut dalam paket genetikku, makanya aku selalu gagal mengerti. Padahal, seorang ahlinya ada begitu dekat denganku, kau. Padahal guru besar bahasa itu ada disampingku. Bahasa aneh dari planet tempat cinta punya logika serta hukum sendiri.

Jadi ina,,
Maafkan aku,,,
Aku tidak akan pernah bisa memiliki semua hal yang mirip dirimu. Aku yang hanya bisa melihat segalanya tiga dimensi dan bukan empat seperti dirimu.
Beberapa hari ini aku berfikir, murni dengan sel-sel otak. Menerjemahkan apa yang selalu dianggap orang absurditas. Dan kesimpulannya,,,,

Alam hatimu tidak mungkin dimengerti siapa-siapa. Tapi kemanapun aku pergi, kau tetap yang selalu ada. Merasuk ke pori-pori, darah dan tulang. Aku tidak perlu mengejarmu, karena kau akan benci itu. Aku tidak harus merayu, karena kau sudah muak dengan banyak gombalan.
Aku percaya, kau tidak akan kemana-mana. Meski menerawang jauh, kau akan tetap pulang. Karena akulah, tiket mu sekali jalan.
Kita berdua tau,, tentang semua hal yang ada,

Aku hanya ingin mengatakan itu ina, semoga kau paham.

Dariku,
Pemilik rindu dikepalamu. 









Untuk diikutsertakan dalam project MemoriAkhirTahun dari oleh  KPM

Surat kedua



Selamat malam pemilik rindu di kepalaku,,


Aku tadi sempat bingung membaca pesanmu,,
Entah apa yang terjadi, kau sedikit berbeda ina.
Ah,, mungkin kesalahanku belum juga termaafkan. Tapi, tak apa ina. Aku bisa mengerti.
Kau tau, secara tak sadar aku selalu menemukan keteduhan pada matamu. Kau tau, aku selalu betah berlama-lama disana. Menyelami tiap inci gerakannya.
Jangan tertawa ina,, aku tidak sedang membual, apa lagi gombal. Gombal? positif, aku tak tau..

Tapi, bolehkah aku merayu? Lagi?
Rinduku ingin menyampaikan sajak. Dan semoga, hatimu yang sekarang batu, mulai melunak. 


Serupa aku yang menatapmu diam dalam senja; ketika lelangkah mereka disambutmu bahagia, terlintas tanya — bagaimana bisa aku yang bulir mampu memelukmu dalam damba?
Dan jika segala rasa dalam aku dapat dilabuh padamu, dermaga, akan ku lakukan, dengan bersegera.
Ada cengkrama yang dilakukan hujan pada rindu yang menguap di keringnya tanah kemarau — tanpa suara.  Hujan yang, kadang-terkadang buta akan aksara dan tak bisa mengeja bahkan satu kata. Menyatakan di dalamnya, bahwa kini; bisu serupa mahkota raja yang berharga.
Dan akhirnya muncul tanya. Bahwa; mengapa pelangi tak segera mengangkasa? Pun, diketahui ujung pangkalnya?

 Inanumuwu, semoga kau paham apa maksud suratku kali ini. semoga saja..

Salam.
Pemilik rindu dikepalamu.


Untuk diikutsertakan dalam project MemoriAkhirTahun dari oleh  KPM


Surat pertama.


 Teruntuk inanumuwu.
Senang rasanya saat ini kita kembali dipasangkan dalam event penutup tahun kali ini. apa kau juga senang ina? kuharap jawabmu "iya" :D

Ah, ada banyak hal yang belum tuntas diantara kita kemarin bukan? Prihal tanya, tawa, rasa. semua hal yang belum berkesudahan.
Aku ingat sepenggal tarian kalimatmu saat kita masih hangat, dulu.

"Aku rindu, ketika ranah pijakmu mampu lahirkan temu; aku dan kamu, pada lalu. Kala rindu yang retas dari cangkangnya dan membesar selama kita jaga.
Aku rindu, ketika ranah pijakmu mampu nyatakan rengkuh yang semula tak berlengan. Kala hangat meraja, menimang sendu yang semula terjaga."

Ada duka yang terbuat tak sengaja, memperbudak rasa untuk mengagung pada lukanya. kau tau, Inginku segala acuh berjalan saja dengan pongah, memberi abai agar cinta selalu mampu menampakkan mukanya.

***
 Menjalani hari demi hari dengan hadirmu, serupa waktu tak berniat henti sedetikpun — berlalu dengan cepat yang sangat. Seakan temu baru saja menjemputmu, dan berikutnya kamu tertelan jarak yang merentang.
, sebelum jarak memperbudak rindu dengan rinai yang perlahan membasahi pipi. Lagi

Meneguk sisa waktu yang mengental pahit di dasar gelas temu kita. Menyisakan segaris harap yang tak mampu di tebalkan. Dengan akhir segala tanya tentang kapan kita bertemu yang lagi — nanti.
Ina, Temu itu, akankah? atau memang tiada?

 Pelukku, untuk pemilik rindu dikepalaku.


Untuk diikutsertakan dalam project MemoriAkhirTahun dari oleh  KPM