Segala jenis hening yang dituang malam terasa makin mengental
Semarak pujian tentang senja menjadi kabar yang lewat terdengar
Kita masih bertahan dengan peluk terpenggal
Di pelabuhan puisi ini, jelitamu tiba sebagai kapal tanpa nahkoda
Tapi pertengkaran, ialah anak ombak yang menenggelamkannya
Siulanku menjadi alunan suara yang tertiup dari bibir pendosa
Semoga di telingamu, ia sampai sebagai doa penenang usia
Ada sajak yang pernah kujadikan penutup telinga
Ketika sebuah pintu yang kau banting menjeritkan luka yang kupelihara
Lalu cahaya bulan mengering
Kau pergi mengenakan sepatu bernama waktu
Perpisahan telah menjelma badik yang menghabisi awal tahunku
Pergilah!
Barangkali di luar sana,
kau temukan peluk yang lebih tabah dari dada yang aku punya
Kau tetap menjadi pertanyaan dari kening yang kukerutkan
Kau tetap udara pengisi di pipi yang kucembungkan
Dan engkau tercipta sebagai sesuatu yang kumiliki, namun menolak kupahami
Seharusnya, kamu bisa hidup bahagia dengan ribuan senyuman di satu ruang
Seharusnya pula, ruangan itu adalah ingatanku
Semacam jelang tidur yang gagal
Ingin menulis aroma hujan
Ingin menulis pagi buta
Ingin menulis suara ombak
Ingin menulis wangi tanah basah
Ingin menulis hamparan gurun hijau
Masih banyak lagi;
Lambaian nyiur
Semilir angin
Cuaca dingin
Segelas kopi
Lantai yang basah
Sekaleng bir
Namun seketika aku sadar
Semua yang ingin kutulis ternyata pernah kutemukan di sekujur tubuhmu
Sementara tatapan mata, canda tawa, pelukan-pelukannya, masih sisi dingin bantal kapuk yang menenangkan lelap tidurku.
Perempuan yang tak kuinginkan itu pulang dengan langkah tak terdengar. Membawa rekaman jerit, bentak, juga beberapa cerita tentang apa yang membuat sembab mata dan lebam biru di pipinya.
Aku pikir, ia datang untuk memberitahukan makanan berbahaya apa saja yang tak ia perbolehkan untuk aku makan. Sebab dia takut aku terkena stroke atau serangan jantung lalu mati, dan ia tak bisa mendatangiku lagi.
Atau mungkin, ia hanya ingin sekadar mengingatkan kalau dia masih sangat membenci acar, yang ia bilang selalu membuat liang surganya basah, dan ia tak mau aku kecewa ketika menyetubuhinya di hotel-hotel murah kelas Kamboja.
Malam itu ia datang tak mengenakan kacamata. Ia bilang ingin sekali melihatku telanjang tanpa terhalang apa-apa. Ia membawa setangkai bunga berwarna merah muda. Cantik sekali! Persis lesung pipit dan rambut cepolnya yang sering aku tuliskan dalam puisi. Lesung pipit yang selalu aku puja, aku pelihara, yang tak pernah menguap begitu saja meski berulang kali aku campur dengan majas apa saja.
"Tadi waktu aku beli, bunga ini wangi sekali" katanya.
"Tidak seperti kenangan dalam kepala kita yang mampu bertahan lama, wangi bunga bisa saja lenyap mengudara ketika ia sampai di tangan penerimanya."
Kami sempat terlibat perdebatan kecil, tentang siapa yang dulu meninggalkan atau ditinggalkan. Aku memilih yang kedua, namun ia menyanggahnya. Ia bilang, "cinta kita tak pernah tanggal, meskipun kita berjauhan dengan peluk terpenggal."
Untuk melanjutkan perayaan cinta dan dosa, malam itu kami sengaja memilih ruangan paling gelap. Agar tak ada siapapun yang melihatnya kecuali kita bertiga; Tuhan, aku dan dia. Sebab cinta hanya membutuhkan itu saja
Tapi, menurut berita yang kubaca dari beberapa lembar puisi, takdir tak mengizinkan mereka bersatu. Sebab, bentuk mereka hampir sama.
Surga lain yang kusebut itu adalah kau;
Berkhayal melihat senja, melihat lampu kota yang mulai menyala, atau berbincang tentang apa saja yang belum pernah kita bicarakan sebelumnya.
Seperti keindahan, yang hidup atas paru-paru namamu.
Kuawali dari jelitamu, yang kuangankan mimbar bagi
segala jenis kekaguman.
Nyalang matamu ialah terik, mengamini doa untuk
mengawali segala kehidupan.
Rambutmu ribuan serat tanpa ruas. Pantulan sinar rembulan imitasi, anak panah menuju
pulang yang kupercayai.
Hembus napasmu, kehangatan yang setia memeluk daun telingaku; yang merupakan keranjang, buah-buah ranum yang jatuh dari bibirmu.
Keningmu, tenang permukaan telaga. Melayarkan mimpi bibirku yang sekoci, menuju pulau sunyi yang tak memiliki pagi.
Bulu matamu atap dari istana yang megah, sandaran tubuh untuk berteduh, dari terik hingga hujan yang dijatuhkan semesta.
Kedipanmu hening damai tanpa suara, santun langkah kaki jenjang bidadari yang mengitari purnama.
Bibirmu debar debur laut, pembasuh paling riang,
penerbang sukma menuju temaram surga.
Lalu aku mengingat pelukmu; hangat muara jutaan
cuaca, yang tak cukup kutulis dengan majas apa saja.
Bahkan pundakmu, bantal terbaik untuk kepalaku.
Padang pasir yang tak punya akhir dijelajah musafir — berparas serupa Yusuf.
Sidik jarimu adalah arsiran acak di atas debu. Kujaga serupa kain beledu, rebah lembut damai kulit pipiku.
Lenganmu samudera yang membentang.
Tempat segala anak-anak rindu terdampar, penenggelam paling tenang, untukku yang tak pandai akan renang.
Jemarimu runcing belati berkuku ungu, mengerat
pergelanganku yang kaktus berdarah salju.
Kini, labirin-labirin hatiku, telah ramai menanti damai.
Kemarilah, bingkiskan sekotak pelukan berpita merah
muda.
Jika kau mempercayai kisah ini, akan kusiapkan seluruh hangat yang kumiliki.
Semoga saja, Tuhan selalu berbaik hati; melibatkan kita pada takdir yang sama.
Kepalamu seperti laci dalam kepalaku
Berisi arloji, memori yang tak kupakai lagi, juga guning kuku yang kugunakan sekali-sekali
Kepalamu layaknya gayung dikamar mandi
Suka bergoyang dan berputar-putar ketika dialiri air dari dalam keran
Kepalamu serupa warna cat rumah tetangga sebelah
Selalu berganti warna sesuai selera tiap tahunnya
Kepalamu seperti baju buruh pabrik yang susah dicuci
Sebab noda membandel, atau kotoran lain sisa oli
Kepalamu seperti kipas angin diwarung kopi
Terus berputar dan menoleh kekanan-kekiri meskipun sepi pembeli
Kepalamu seperti lampu kamar yang lupa kumatikan
Tak terlalu terang, tak jarang juga hanya mengganggu pejam
Barangkali seperti itu, kau menebak isi kepalaku yang masih selalu berisi tentangmu
Selasa pagi pernah bertanya,
Bagaimana kabarmu?
Lembut, lamban menyerupai kepak sayap kelelawar yang berpura-pura membenci matahari
Melebihi lentur angin yang mengajari pohon-pohon
menari
Selasa pagi juga bertanya,
Kemana perginya pelukan yang pernah kaupuja dengan delapan ratus bahasa?
Kecup yang kau katakan pandai menidurkan rembulan
luka karena gerhana,
Atau usap paling menenangkan bagi angsa yang dijangkiti kecewa karena arus telaga
Kasih, aku gemetar mengingat suaramu yang tak lagi bisa kudengar
Memandang punggung yang perlahan menghilang
Dan rindu, telah menjadi hukuman atas dosa kecil yang hanya bisa diampuni oleh pertemuan
Seketika aku menggigil pada suhu terendah
Sementara hangatmu, layaknya punggung lembah yang disanjung ribuan kabut-kabut
Degupku parau.
Diremehkan garau angin dini hari
Diacuhkan sepi yang lebih sunyi dari denyut nadiku
sendiri
Perihal apakah yang membuatmu setabah ini menanti? Tanya Selasa pagi
Sebab dekapmu murni, bukan hangat buatan yang
kumenangkan dari meja judi
Mengulang kebiasaan lamaku, meniup senja yang menyelinap di matamu
Membersihkan warnanya yang tercecer di keningmu dengan bibirku
Kerap kau katakan, adegan itu adalah kecupan rahasia yang diajarkan para dewa
Ditubuhku, engkau masih udara yang belum dihisap napas
Desir yang belum ditangkap darah juga degub yang belum ditemukan jantung
Dan hanya di bibirmu tersimpan senyuman yang tak pernah bisa aku taklukkan
Akulah gerimis awal yang ingin tunduk di wajahmu
Warna lain yang menggantikan bedak dan gincumu
Menjelma bening yang mencatat kedipan pertamamu agar kau tak lagi mendengar gumam mendung yang
menyesal
Mengguyurkan kekaguman dalam bentuk hujan
Jangan kau bilang ketabahanku seperti kayu, Sayang
Kepada langit, selalu kau pulangkan aku sebagai asap
Kau serupakan aku baling-baling kapal yang menyakiti alur laut
Sedang pelukanmu ,kepal tangan nahkoda yang membabibuta
Didadaku, masih ada debar ketabahan yang mengkhawatirkanmu
Pada sebidang luas kertas putih, titik hitam kecil selalu lebih menarik pandangan.
Sebelanga besar susu tidak ada artinya dibandingkan nila yang hanya setetes saja.
Dan gajah yang jelas-jelas menempel di pelupuk mata tiadalah artinya tinimbang kuman di seberang samudera sana.
Lihat, kan? Hal-hal kecil yang merusak nyata-nyata lebih menjadi anak emas perhatian kita.
Kebaikan-kebaikan seseorang selama sepuluh tahun, misalnya, bisa saja kita lupakan hanya karena satu kesalahannya yang tak bisa kita maafkan.
Seseorang yang mencintai kita sebesar gajah yang menempel di pelupuk terabaikan dan kita
malah memilih mengejar kuman di seberang lautan yang bahkan untuk dilihat dengan mata telanjang saja sebenarnya susah.
Gajah di pelupuk mata tak dapat cinta, kuman di seberang lautan yang terus
mengabaikan tak lelah dipertahankan.
Hati. Ya. Kita sedang bicara masalah hati. Yang gagal dipegang kendali.
Satu senja pernah kita habiskan dengan diam dan keadaan yang semakin mendingin.
Sepasang kupu-kupu dengan sayap tua menguning, terbang menggiring kata bosan yang keluar dari bibirmu. Gerimis sore itu seperti jutaan tombak yang ingin menikam segala yang lelah di kepalaku.
Hening membatu, tanpa satu pun suara yang berniat melenturkan lidah kita.
Untuk mengelabuhi kecewa, di atas selembar roti aku melukis setangkai mawar dengan mentega. Kuletakkan tepat di sebelah teh wangi melati yang kau pesan dengan hati benci dan segala yang menyakiti.
Sore ini, sekeping kegagalan telah tersaji pekat di atas meja pertengkaran.
Dimasak di sebuah dapur yang menyeruakkan wangi bunga-bunga setelah kau mengenal dia.
Petir di luar menyerupai suara tawa mereka yang di depannya dulu, aku pernah membanggakanmu.
Sepertinya kita butuh senja lain untuk mengumpulkan percakapan.
Satu sore saja, aku rasa tak akan cukup untuk menampung perbincangan kita yang semakin tajam dan mulai gemar saling melukai.
Aku menyadari bahwa kita hanyalah sepasang permohonan yang tak pernah selesai di hadapan doa.
Sebelum kau dan aku benar-benar paham, pertemuan adalah perintah takdir untuk kita menjaga, lalu saling tabah melepaskan.
Kelak, silam juga akan mengajak kita untuk saling memunggungi.
Tanpa perlu mengingat lagi, kedua dada kita pernah saling berjanji untuk mengingat sehidup hingga mati.
Ternyata benar apa yang dulu pernah aku takutkan,
terutama perihal mencintai, melepaskan memang butuh rasa sakit yang lebih.
Kelak, kita akan menjadi cuplikan peristiwa yang tak ingin dilanjutkan pertemuan lainnya.
Menggantung di antara usai atau belum selesai.
Mengambang di antara tetap bertahan atau harus rela melepaskan.
Tapi mungkin itu nanti, setelah aku memiliki kebesaran hati
Sebab kesedihan kerap datang mendahului perkiraan, aku pun bersiap diri untuk
menjadi bagian dari sekian hal yang layak kaulupakan.
Tulisan ini tak hanya berupa angin, yang membawa kabut senyum menuju bening laut air.
Berbahagialah, rebahkan kekaguman itu di dadanya.
Jangan lupa satu hal; datanglah kembali ke sini, jika kau butuh sesuatu yang bisa kau lukai.
Diikutsertakan dalam lomba menulis #Kpm.
Kau tau kawan?
Ialah ia yang terus melagu-kan doa tentang rasa sakit dan bahagia tanpa jeda.
Kau tau kawan?
Adalah mata yang sering meng-anak sungai, dan berjuang untuk kering. Sulit.
Diujung sana,, di waktu yang paling nanar. Gadis itu telah penuh lebam. Jatuh, bangun. Jatuh, bangun tanpa ampun.
Kau tau kawan?
Jengkalku hanya sekedar jengkalan.
Lenganku,, tak berarti apa-apa.
Kosong, lagi-lagi.
Satu kali, dua kali. Ah, berkali-kali.
Kau tau kawan?
Rindunya,, sudah menggunung.
Anganku,, sudah berpulau.
kami jauh,, apalah daya.
Jarak adalah pembunuh berdarah dingin bagi cinta yang tidak siap.
Bodohnya, kami siap. Sedari dulu.
Kau tau kawan?
Bisakah kami pulang ke-awal?
Seketika, pilu samar dalam lumat paling cinta. Telaga tak berwarna kini memunggungi kemarau.
Di halaman, sebuah siluet menjelma kupu-kupu, mengitari rimba bunga tertutup salju.
Perlahan, putri malu mendongak.
Malam menyapa, bayang wajah mengatap di antara redup lampu kamar.
Tidurlah, jelita.
Maaf baru bisa membalas surat-suratmu.
Aku terkejut membaca surat-suratmu. Bukan karena banyaknya yang sudah kau kirim, tapi isinya yang benar-benar membuat kebas.
Suratku ini akan menjelaskan dan menjawab semua pertanyaan dan pernyataanmu, ina.
Semoga setelah ini, kita akan benar-benar mengerti atas apa yang ingin kita tuju.
****
Kau tau ina, sebuah hubungan yang dibiarkan tumbuh tanpa keteraturan
akan menjadi hantu yang tidak menjejak bumi, dan alasan cinta yang
tadinya diagungkan bisa berubah jadi hutang moral, investasi waktu,
perasaan serta perdagangan kalkulatif antara dua pihak.
Kau pasti tau,, ada beda antara kita.
Aku, ya cuma begini-begini saja. Aku bukan pujangga dan tak pernah bisa bermetafora. Monokrom, dan kurang dimensi.
Ya, inaa. Inilah aku. Praktis dan realistis.
Aku sudah mencintaimu ina, meski kau selalu ragu. Dengan segenap
rasio dan akal, aku mencintaimu. Dalam bayanganku, kita dapat bekerja
sama membina apa saja, termasuk rumah tangga. Itulah aplikasi substansi
berjudul "Cinta" bagiku. Cukup seperti itu, dan aku yakin kau pun paham.
Dalam konsep cinta yang ku pahami, ternyata tidak banyak yang ku tau
tentang mu, ina. Kau selalu merajut lukamu. Entah apa alasannya, kau
selalu memelihara luka masa lalu itu. Kau terus menjaga ingatan itu,
hingga aku kadang tidak mengerti tentang banyak hal. Kau selalu
menyimpan sendiri. Kau malah menenangkanku yang kebingungan, hanya
dengan isyarat.
Saat seperti itu selalu membuatku berfikir, jangan-jangan aku yang
terlahir cacat. Ada satu bahasa di semesta ini yang tidak terikut dalam
paket genetikku, makanya aku selalu gagal mengerti. Padahal, seorang
ahlinya ada begitu dekat denganku, kau. Padahal guru besar bahasa itu
ada disampingku. Bahasa aneh dari planet tempat cinta punya logika serta
hukum sendiri.
Jadi ina,,
Maafkan aku,,,
Aku tidak akan pernah bisa memiliki semua hal yang mirip dirimu. Aku
yang hanya bisa melihat segalanya tiga dimensi dan bukan empat seperti
dirimu.
Beberapa hari ini aku berfikir, murni dengan sel-sel otak.
Menerjemahkan apa yang selalu dianggap orang absurditas. Dan
kesimpulannya,,,,
Alam hatimu tidak mungkin dimengerti siapa-siapa. Tapi kemanapun
aku pergi, kau tetap yang selalu ada. Merasuk ke pori-pori, darah dan
tulang. Aku tidak perlu mengejarmu, karena kau akan benci itu. Aku tidak
harus merayu, karena kau sudah muak dengan banyak gombalan.
Aku percaya, kau tidak akan kemana-mana. Meski menerawang jauh, kau akan tetap pulang. Karena akulah, tiket mu sekali jalan.
Kita berdua tau,, tentang semua hal yang ada,
Aku hanya ingin mengatakan itu ina, semoga kau paham.
Dariku,
Pemilik rindu dikepalamu.
Untuk diikutsertakan dalam project MemoriAkhirTahun dari oleh KPM
Selamat malam pemilik rindu di kepalaku,,
Aku tadi sempat bingung membaca pesanmu,,
Entah apa yang terjadi, kau sedikit berbeda ina.
Ah,, mungkin kesalahanku belum juga termaafkan. Tapi, tak apa ina. Aku bisa mengerti.
Kau tau, secara tak sadar aku selalu menemukan keteduhan pada
matamu. Kau tau, aku selalu betah berlama-lama disana. Menyelami tiap inci gerakannya.
Jangan tertawa ina,, aku tidak sedang membual, apa lagi gombal. Gombal? positif, aku tak tau..
Tapi, bolehkah aku merayu? Lagi?
Rinduku ingin menyampaikan sajak. Dan semoga, hatimu yang sekarang batu, mulai melunak.
Serupa aku yang menatapmu diam dalam senja; ketika lelangkah mereka disambutmu bahagia, terlintas tanya — bagaimana bisa aku yang bulir mampu memelukmu dalam damba?Dan jika segala rasa dalam aku dapat dilabuh padamu, dermaga, akan ku lakukan, dengan bersegera.
Ada cengkrama yang dilakukan hujan pada rindu yang menguap di keringnya tanah kemarau — tanpa suara. Hujan yang, kadang-terkadang buta akan aksara dan tak bisa mengeja bahkan satu kata. Menyatakan di dalamnya, bahwa kini; bisu serupa mahkota raja yang berharga.
Dan akhirnya muncul tanya. Bahwa; mengapa pelangi tak segera mengangkasa? Pun, diketahui ujung pangkalnya?
Untuk diikutsertakan dalam project MemoriAkhirTahun dari oleh KPM
Teruntuk inanumuwu.
Senang rasanya saat ini kita kembali dipasangkan dalam event penutup tahun kali ini. apa kau juga senang ina? kuharap jawabmu "iya" :D
Ah, ada banyak hal yang belum tuntas diantara kita kemarin bukan? Prihal tanya, tawa, rasa. semua hal yang belum berkesudahan.
Aku ingat sepenggal tarian kalimatmu saat kita masih hangat, dulu.
Untuk diikutsertakan dalam project MemoriAkhirTahun dari oleh KPM











.jpg)

