"Itu,,, boneka penangkal hujan kan?"
"Ya."
"Kenapa dipasang terbalik?"
"Biar hujan."
Aku mengayuh sepeda secepat mungkin menuju taman kota. Udara musim panas di bumi dewata hari ini sangat menyengat. Hari ini pastilah semua orang tengah berbondong-bondong menuju pantai, aku lebih memilih kedanau Badugul.
Danau Badugul sendiri menjadi tempat magis bagiku. Pertama kali aku ke kota ini, hal yang paling menggelitikku adalah gerbang taman ini. Gerbangnya terdiri atas dua bagian. Sebelah kanan, dibentuk padi-padi yang sedang berkembang dan burung-burung yang berterbangan. Sebelah kirinya, padi-padi tersebut masih ada, namun ditambahkan orang-orangan sawah yang berdiri tegak. Jadi bila digabungkan, gerbang ini seperti replika sawah.
Disini terlihat lengang dan aku pun mempercepat langkah. Suasana disini tak ubahnya sebuah taman tanpa rimbun pepohonan. Dedaunan pohon-pohon disini telah gugur sejak musim hujan lalu. Lama aku mengayuh sepeda, aku tertarik ketika melihat satu sosok yang tampak sedang berusaha meraih cabang pohon linden dipinggir sungai. Penasaran, aku menghampirinya.
"Itu boneka penangkal hujan kan?. Aku bertanya ketika melihat satu boneka putih dikepalan tangannya yang mungil.
Dia menoleh kearahku sekilas, lalu kembali keposisinya semula.
Aku mendadak diam melihat apa yang dilakukannya. Tali yang menggantung boneka itu berada pada posisi tidak biasa.
"Kenapa dipasang terbalik?" Tanyaku heran setelah memastikan apa yang aku lihat itu benar.
"Biar hujan,". Jawabnya pendek.
Aku mengernyitkan dahi, menatap gadis dihadapanku yang sedang menggantungkan boneka berkepala gundul itu di sebuah pohon linden di danau badugul. Dari paras wajahnya, terlihat dia bukan gadis pribumi melainkan berkebangsaan Jepang atau Cina. Bukankah orang-orang Jepang atau cina sangat membenci hujan?. Kebanyakan orang-orang Jepang mengutuk butiran-butiran itu.
"Kau sukaa hujan?" Aku bertanya heran.
Gadis itu menggeleng. "Tidak,". Ujarnya sambil berusaha mengaitkan simpul pada pohon itu. Aku hanya mengamati parasnya. Yang paling membuatku terkesan adalah potongan rambutnya yang dibuat pendek model bob dengan poni lurus menutupi keningnya dan pipinya yang membuatku gemas setengah mati; seperti mochi (makanan khas jepang)
"Jadi?"
Gadis itu sudah selesai melakukan tugasnya. Ia langsung saja berlari kecil menjauhiku.
Aku menatap boneka yang dipasangkannya itu dengan tanda tanya besar.
Boneka itu,,, memasang ekspresi sedihh.
****
"Masih memasang itu?"
Aku melihat gadis itu pada hari berikutnya. Iya memakai kimono musim panas berwarna merah muda, berdiri didepan pohon linden yang sudah meranggas. Kemarin, hari sangat cerah, bahkan cenderung panas. Jadi dapat disimpulkan bonekanya tidak berhasil.
"Seperti yang kau lihat," ujarnya sambil mengangkat bahu. Aku mendekatinya, membantunya mengaitkan boneka itu di pohon. "Musim hujan sudah berakhir satu minggu yang lalu. Dan, kau fikir akan turun hujan?"
Ia melirikku sekilas "Apa salahnya berharap?" Ia berkata santai.
"Memang sih, tapi harapan kadang membuatmu buta. Tidak berfikir realistis.". Sanggahku menjawab pertanyaan darinya.
Tidak ada kata-kata yang keluar dari bibir mungilnya, aku juga tidak membuka percakapan.
"Terimakasih banyak". Ujarnya sambil sedikit membungkuk.
Aku tersenyum kecil. "Sama-sama".
Dia kemudian duduk di rerumputan. Akupun mengikutinya. "Buat apa melakukan itu?" Tanyaku sedikit mengernyit dahi.
Dia menatapku, rambutnya sempurna diterpa angin.
"Melakukan apa?" Tanyanya balik sambil mengerlingkan matanya.
"Kau bilang tidak sukaa hujan, kenapa kau malah meminta agar turun hujan?".
Sungguh aneh konsep yang ada dikepalaku. Bagaimana mungkin orang yang tidak menyukai sesuatu, tetapi malah menginginkan sesuatu itu hadir.
Ia menengadahkan kepalanya keatas. Seperti memikirkan sesuatu.
"Karena... Karena setelah hujanlah aku bisa bahagia.". Ujarnya pelan.
Aku melihat matanya berkaca-kaca. Seperti akan ada air yang jatuh dari sudut matanya.
"Maksudmu?"
"Aku harus pergi." Ia bangkit dari tempatnya duduk, lalu langsung pergi.
Lagi,lagi, aku berujar dalam hati. Apa yang membuatnya demikian?.
****
Hari ini, hujan turun rintik-rintik.
Aku mengamati butir-butir dari balik jendela kamarku.
Aku tidak sukaa hujan. Hujan melambatkan semua hal, termasuk waktu. Aku akhirnya memilih mengambil game portabel dari lemari sambil menyetel lagu Linkinpark-points of authority.
Hari ini, hujan turun rintik-rintik.
Mendadak aroma hujan mengingatkanku pada gadis itu. Pastilah saat ini ia sedang tersenyum bahagia melihat hasil jerih payahnya berhasil. Atau, mungkin saat ini ia sedang menari-nari dibawah hujan? Ataukah ia lebih memilih meringkuk dikasur mengenakan selimut tebal, lalu memainkan game portabel sepertiku?
Pikiran-pikiranku tentangnya membayang seiring turunnya hujan. Yang jelas, pastilah ia sedang bahagia sekarang.
Tunggu, mengapa aku memikirkan gadis itu??
****
