Matahari tinggal sepenggalan, mengintip diam-diam.
Dikolong langit,, beriak ombak pasang menerjang.
Dingin,,
Semilir angin merayu nakal, menggoda sepasang mata untuk saling bercengkrama.
Sang pria berbisik lirih, meruntuhkan ketakutan.
Takut, bapak mengamuk jika pulang malam.
Apa mau dikata, embel-embel "Cinta" mampu mengalahkan segalanya.
Adzan Magrib berkumandang, tak membuat dua sejoli ini perduli.
Malam mereka terlalu indah jika harus segera dilewati.
Rengkuhan hangat itu, belaian mesra, tatapan mata teduh dibarengi kecupan manis dibibir tipis, menumpulkan akal sehat.
Apa mau dikata, pasangan ini tengah digoda perasaan berbumbu nafsu.
Malam sempurna bagi sibujang tangguh,,,
Malam ternoda bagi sigadis rapuh,,,
"Harta termahal seorang wanita adalah Kehormatan, nak!". Pesan bapak.
"Harta termahal itu adalah Cinta dari seorang pemuda, bapak!". Batin sigadis.
****
Diguyur nya lagi tubuh ternoda nya.
Ditampar nya lagi kedua pipi merah yang mudah dirayu.
Dikutuk-kutuknya janin dalam perut yang semakin membesar.
Harus dikubur nya dalam-dalam mimpi ingin menjadi Dokter, masa study nya harus terganti dengan kelahiran seorang bayi.
Mimpi yang luntur, berbarengan dengan air guyuran. Mengalir lewat lubang pembuangan, masuk selokan, terhinakan dalam kubangan.
Terbayang lagi wajah pria yang tadi sore memutuskan pergi dengan wanita lain. Berkhianat, memutuskan janji sebelah pihak.
Cemas sendiri memikirkan kemungkinan terburuk.
Amarah bapak, ejekan teman sebaya yang akan ia terima, disudutkan oleh keluarga.
***
"Kau anak tak tau di untung, tak ingat budi. Sudah ku besarkan kau dengan makanan halal, hingga terasa remuk punggung agar kau tak terjamah makanan haram, sekarang kau lempari muka bapak kau ini dengan kotoran!!!".
Makian bapak tadi, tergambar jelas. Bergema dalam kepala. Tidak, bukan hanya sebaris kalimat itu. Tidak hanya sebatas cacian itu, lebih parah hingga jantung lemah bapak kembali kumat. Tergesa-gesa ibu dan para tetangga melarikan bapak kerumah sakit, harapan yang tersisa.
Ini jelas kelakuan terburuk yang dilakukan gadis itu. Padahal ia tipikal anak penurut, menuruti semua kata-kata bapak nya yang darah tinggi. Selama ini menjaga betul agar bapaknya tak marah berlebihan, membuat jantungnya bekerja lebih keras. Kali ini, mungkin dosa nya tak termaafkan. Bapaknya benar, ia jelas-jelas sudah mencoreng muka bapaknya dengan kotoran busuk.
Apa lagi yang bisa ia sesali? Menangis? Tapi, ia tak menangis. Umpatan bapaknya sudah membuatnya lupa cara menangis. Kata-kata bapaknya, dan kalimat putus dari pria yang merusak masa depannya saling berebut masuk kedalam otak, membuat ia memilih satu-satunya jalan tengah.
****
Bendera kuning, berlambang duka. Isak tangis membias dirumah sederhana pinggiran kota itu. Gemuruh tahlil membuat suasana malam kian meradang.
Pria berperawakan tegas itu harus menghembuskan nafas terakhir tepat saat kembali dari rumah sakit. Saat dinyatakan sudah membaik, ia memutuskan kembali kembali kerumah. Mencari anak semata wayangnya, ingin meminta maaf atas semua kalimat pedasnya. Saat menuju kamar anaknya, perasaan gundah mulai merasuk. Anaknya tak menyahut untuk beberapa saat. Pintu kamar terkunci, harus didobrak. Apa daya, pemandangan didepan matanya harus membuat jantung yang lemah itu kembali lumpuh bahkan tak lagi sempat tertolong. Lihatlah, anak gadisnya terbujur kaku di atas ranjang dengan lengan bersimbah darah.
***
Gadis itu,, tergolek lemas di ruang inap rumah sakit sedang ayahnya harus segera disemayamkan pagi itu juga.
Ibunya tak lagi mampu berkata banyak. Hanya sesekali bertanya dalam hati. Beberapa kali pandangannya terasa kabur, tubuhnya kebas.
"Tuhan, mengapa hidup harus sesulit ini?".
Baru saja orang tuanya meninggal beberapa minggu lalu. Kini, pria kebanggaannya pun harus menutup mata, kembali kesurga.
Anaknya, harus menderita karena patah hati, mengandung janin yang tak diinginkan, dan ditinggal sang bapak. Anaknya, yang sedari kecil sudah diajarkan bersalawat, bermunajat selalu, kini sudah ternodai oleh sentuhan pria yang bahkan tak terlalu ia kenali.
Ia hanya tahu, semua nya pasti ada arti dan maksud tersendiri. Ia tak pernah curiga pada kemaha agungan tuhan. Akan ada kabar baik setelah ini, semoga segera.
***
Diliriknya jam pada ruang kamar serba putih itu. Mungkin bapaknya telah disemayamkan. Ia tau apa yang terjadi. Ia terbangun dari pingsan setelah ditangani tangan-tangan medis. Teriakan tertahan ibu di ruang UGD tadi malam menjelaskan semua. Bapaknya menghembuskan nafas terakhir karena ulahnya.
Air mata meleleh keluar dari peraduan. Ia bahkan tak sempat mencium kaki bapaknya, meminta maaf sebelum rencana bunuh diri itu.
Ia mengutuk diri, harusnya ia yang mati, harusnya kekasih nya yang tolol itu yang mati, bukan bapaknya. Pria itu tidak sepatutnya meninggal dengan luka yang begitu dalam.
Kini, nasi sudah menjadi bubur. Dapatkah bubur kembali menjadi nasi?
Ia menganggap mimpinya dapat seindah senja kala itu.
Ia tak menghiraukan adzan magrib saat itu, padahal awal peringatan untuknya.
Ia yang tak pernah tertinggal satu waktu solatpun, malah tergoda untuk terus berpetualang dengan belaian lelakinya.
Tengoklah kini,, lelakinya pergi, bapaknya mati, ibunya depresi. Tinggalah dia yang hanya bisa mengutuk diri sendiri...
Np; ditulis saat berkeliling pantai panjang. Menyaksikan beberapa pasangan muda yang bersenggama dengan latar senja. Menyadarkan bahwa dalam dunia, tak mampulah kita untuk berandai-andai.
.jpg)