Keluhkan awan hitam



Hujan pertama datang di depan jendela pukul tiga lewat sekian puluh menit. Dini hari tadi. Sebentar saja. Tak berlama-lama.
Tak sempat ia melepas sepatu dan mantel tuanya yang berbau tanah basah. Tak sampai pula hatinya membangunkan aku yang baru berhasil terlelap beberapa menit sebelum ia tiba.
Ia cuma mengetuk jendela. Berbisik bahwa mulai kini ia akan selalu ada untuk membasuh kemarau sekian lama. Ia katakan sesungguhnya ia tak pernah kemana-mana. Meski aku tak mampu melihatnya.
Hujan pertama yang terburu-buru itu lalu pergi. Tanpa menunggu aku terjaga bersama pagi. Jejak bau mantelnya tak lenyap. Sejuknya mendekap.
Hujan pertama yang akhirnya. Orang asing yang merupa kekasih. Atau kekasih yang merupa orang asing.
 Aku mencintainya dengan segenap jumput-jumput kulit dan indera.