sketsa by:Aruna L Sabrina
“Semalam, aku melihat wajahmu jatuh ke lantai,” kata si lelaki kepada perempuannya. “Apa yang terjadi?”
Sang perempuan hanya diam. Asyik memperhatikan bulan pucat sambil menggoyang-goyang kedua kakinya.
Si lelaki mendesah. “Kalau terus seperti ini, tidak akan selesai,” katanya, kesal.
“Aku hanya sedang mencoba membangun pondasi yang lebih kuat,” ujar sang perempuan, pelan.
“Lagi?”
“Ya, lagi.”
“Aku sudah membuang arloji terkutuk itu. Jadi berhentilah melakukannya!” si lelaki menatap perempuannya. Tajam.
“Tidak ada gunanya,”kata sang perempuan
sambil menggeleng. “Tidak ada yang akan berubah. Detiknya tak pernah
mati. Tak pula berjalan mundur.”
Si lelaki terdiam. Kepalanya yang penuh
dengan rencana-rencana nyaris meledak. Sang perempuan beranjak. Berjalan
beberapa langkah sambil menyusun petak-petak batu. Diputarnya arloji di
tangannya. “Lihatlah, bahkan, sejak dulu, kita tak pernah berjalan
beriringan.” Gumamnya, pelan, mungkin bicara kepada dirinya sendiri.
Si lelaki meremas bangku kayu yang
didudukinya. Memandangi sang perempuan tanpa bisa berkata apa-apa.
Bahkan jarak saja tak bisa kuakrabi, pikirnya, apalagi waktu?
“Pergilah,” ucap sang perempuan tiba-tiba sambil menatapnya, mengejutkan si lelaki.
“Tapi aku mencintaimu,” si lelaki tampak memelas.
“Anggap saja itu mimpi,” bisik sang
perempuan di telinga si lelaki, bertepatan dengan sekumpulan kabut yang
tiba-tiba muncul dan membawa pergi perempuannya.
****
“Apa yang kau lakukan di sini?” suara perempuan lain masuk ke indera pendengarannya. “Ayo kita kembali. Di luar sangat dingin.”
“Apa yang kau lakukan di sini?” suara perempuan lain masuk ke indera pendengarannya. “Ayo kita kembali. Di luar sangat dingin.”
“Aku hanya berbicara sebentar dengan perempuanku,” ucap si lelaki lirih.
“Ya, nanti kau bisa bicara lagi. Setelah
cuaca sudah lebih bersahabat.” Perempuan berseragam putih itu menuntun
si lelaki kembali ke ruangan ber-angka. “Lihatlah, kamarmu sudah
dibersihkan. Foto perempuanmu juga sudah tergantung di dinding. Apa kau
senang?”
“Ah, di situ kau rupanya,” kata si lelaki. Dia tampak lega.
Perempuan lain itu menatapnya.
“Seharusnya kau tak perlu menyesali apa-apa,” gumamnya. “Perempuanmu
pasti sudah bahagia di sana.”
Di landai pantai, gugus bintang Hyades berjatuhan
bagai hujan petir
Menyalakan samar hampar lautan: aku menjelma
sebaris nama…
.